Kamis, 22 November 2012

Das Kapital

Karena uang kini setiap orang melakukan perang yang sengit terhadap setiap orang lainnya. Masing-masing berusaha membeli murah dan menjual mahal, masing-masing berusaha menyaingi yang lain, berusaha menjula lebih banyak barang-barang, menjatuhkan harga, menyembunyikan dari yang lain pasar yang memberi laba atau kontrak yang menguntungkan. Dalam perebutan umum untuk uang ini orang-orang kecil, tukang-tukang kecil atau petani-petani kecil, berada di dalam keadaan yang lebih buruk dari semuanya: mereka selalu kalah disaingi oleh saudagar besar atau petani kaya. Mereka itu tak pernah mempunyai serap apapun juga; mereka hidup dari tangan ke mulut; sekali saja mendapat kesukaran, sekali saja mendapat kecelakaan, mereka sudah terpaksa menggadaikan harta bendanya yang penghabisan dan menjual hewan penarinya dengan harga yang tiada berarti. Sekali mereka jatuh ke dalam cengkeraman seorang kulak(5) atau seorang lintah darat, maka jarang sekali mereka berhasil meloloskan diri dari cengkeraman itu dan dalam kebanyakan hal menjadi bangkrut samasekali. Setiap tahun puluhan dan ratusan ribu petani dan tukang-tukang kecil mengunci pondok-pondok mereka, menyerahkan tanah pembagian(6) mereka kepada komune desa dan menjadi kaum buruh-upahan, buruh tani, buruh tak ahli, kaum proletar. Tetapi kaum kaya makin bertambah kaya dalam perjuangan untuk uang itu.

Itulah sebabnya maka kaum buruh Sosial-Demokrat mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri kemiskinan Rakyat yalah merobah tata aturan-tata aturan yang ada dari atas sampai ke bawah, di seluruh negeri, dan mendirikan susunan sosialis: dengan kata-kata lain, mengambil tanah dari pemilik-pemilik tanah besar, mengambil pabrik-pabrik dari pemilik-pemilik pabrik, kapital uang dari bankir-bankir, menghapuskan milik perseorangan mereka dan menyerahkannya kepada seluruh Rakyat pekerja di seluruh negara. Apabila hal ini dilakukan maka kerja kaum buruh sudah tidak akan dipergunakan lagi oleh kaum kaya yang hidup atas kerja orang lain, tetapi oleh kaum buruh itu sendiri dan oleh orang-orang yang mereka pilih. Kalau demikian, maka hasil-hasil kerja bersama dan keuntungan-keuntungan yang dibawa oleh segala penyempurnaan dan mesin-mesin akan menguntungkan semua kaum pekerja, semua kaum buruh. Kekayaan akan bertambah besar dengan lebih cepat lagi sebab, dengan bekerja untuk diri mereka sendiri, kaum buruh akan bekerja lebih baik daripada jika mereka bekerja untuk kaum kapitalis, hari kerja akan lebih pendek, taraf hidup kaum buruh akan menjadi lebih tinggi, dan segala keadaan hidup mereka akan berobah sama sekali.

Hari Tani Nasional

HARI TANI NASIONAL : PERNYATAAN KETUA UMUM PARTAI PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL


Pernyataan
Ketua Umum PAPERNAS
Menyikapi kondisi sektor pertanian ini, Ketua Umum DPP Papernas, Agus Jabo Priyono, mengatakan: “Dari Jaman kolonial, demokrasi parlementer, Orde Baru dan pada era reformasi ini, masalah kaum tani adalah kebutuhan akan tanah, modal, teknologi serta proteksi hasil produksi pertanian. Dan sampai sekarang, tidak ada satu partaipun yang membela kepentingan kaum tani tersebut.” Untuk itu Agus Jabo Priyono, bersamaan dengan peringatan Hari Tani Nasional (24/9) menyerukan kepada kaum tani untuk tidak menitipkan nasib dan masa depannya kepada partai-partai yang telah terbukti mengubur kepentingan hidup kaum tani Indonesia.

“Hidup Kaum Tani! Selamat Hari Tani!” 

Rabu, 21 November 2012

KARTINI yang terlupakan




Pendidikan Anti Kapitalis


Dalam banyak hal, Karl Marx lebih dipersonifikasikan sebagai tokoh ekonomi-politik serta pejuang kaum buruh. Selama ini, kajian-kajian ilmiah hanya menyoroti teori “sejarah pertentangan kelas antara kaum borjuis dan proletar” yang merupakan titik pijak pemikiran Marx. Jarang kita menjumpai diskursus yang menyandingkan pemikiran Marx dengan dunia pendidikan.

Padahal, sebagaimana diungkap dalam buku ”Metode Pendidikan Marxis- Sosialis” ini, Karl Marx bukan hanya pemikir ekonomi-politik, tapi juga seorang pemikir pendidikan kenamaan. Bahkan, menurut Nurani Soyomukti, penulis karya ini, Marx adalah plopor dan peletak teori pendidikan kritis dan pembebasan, bukan Paulo Freire sebagaimana diyakini banyak kalangan.
Dalam konteks pendidikan, Marx meramalkan “basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh basis kapital (ekonomi)”. Teori ini disebut dengan “diteminisme ekonomi”. Tampaknya, ramalan Marx itu memiliki makna relevansi dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Buktinya, regulasi kebijakan pendidikan pemerintah, dalam hal ini Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), tidak lain merupakan penjelmaan penselingkuhan antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapital. UU BHP membuka akses selebar-lebarnya atas bercokolnya praktek kapitalisme (komersialisasi) ditubuh pendidikan.
Lembaga pendidikan saat ini sudah tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia (humanisasi), melainkan menjadi lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial sebanyak-sebanyaknya. Status birokrat kampus, Rektor dan staf-stafnya, tidak ubahnya investor yang hanya memikirkan bagaimana kampus mendapatkan laba sebesar-besar dari peserta didik.
Institusi pendidikan hari ini tidak jauh beda dengan pasar. Bedanya, kalau pasar menjual bahan sembako domistik dan kebutuhan rumah tangga yang lain, sementara perguruan tinggi menjual jasa pendidikan. Mulai dari tenaga pengajar (Dosen), mata kuliah (SKS), sampai fasilitas-fasilitas kampus yang serba glamur dan seper canggih. Kampus akan melakukan apa saja, termasuk memper-“solek” lingkungan demi merekrut peserta didik sebanyak-banyaknya. Karena, semakin banyak kuantitas peserta didik, semakin besar penghasilan kampus.
Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan layaknya korporasi (konglemarasi) yang hanya memikirkan profit oriented. Tidak heran, kalau makin hari biaya lembaga pendidikan kian melonjak. Di era modern, mustahil menemukan biaya pendidikan yang bisa dijangkau orang menengah kebawah (miskin). Semakin bagus fasilitas kampus, semakin besar uang yang mesti dikeluarkan peserta didik. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia barada dibawah garis kemiskinan. Inilah yang disebut “Pendidikan Rusak-Rusakan” dalam kacamata Darmaningtyas.
Secara historis, bibit kapiatalisme dan pragmatisme pendidikan di Indonesia sudah menyeruak pada zaman Soeharto (Orde Baru). Ketika itu, yang menjadi panglima (ideologi) pendidikan adalah “pembangunan” (developmentalisme). Pertumbuhan pembangunan dikejar habis-habisan tanpa memedulikan aspek kemanusiaan. Tak pelak, Identitas lembaga pendidikan pun sebagai media memanusiakan manusia dan penjaga gawang terakhir atas munculnya kaum-kaum terdidik dan bermoral terpasung.
Munculnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik yang konsen di dunia mesin, listrik, arsitektur, administrasi perkantoran, akuntansi, kesekretariatan dan berbagai bidang lainnya merupakan pemenuhan atas nafsu kapitalisme dan pragmatisme itu. Kehadiran SMK diharapakan meluluskan peserta didik yang siap pakai dan sesuai dengan kebutuhan praktis di bidang kerja-kerja infrastruktur pembanguanan, baik sebagai pekerja industri maupun administrator pemerintah.
Sekolah kejuruan nampaknya, menjadi idaman dan pilihan para orang tua yang ingin yang ingin melihat anaknya cepat mendapat kerja dan cepat kaya. Pendidikan yang menekankan pada keterampilan teknis sperti ini tentu saja mempunyai efek besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana nilai-niali pengabdian (loyalitas) terhadap bangsa dan kemanusiaan menempati posisi diatas pragmatisme.
Pragmatisme pendidikan adalah malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan. Jelas, kalau pola pikir pragmatisme menghinggapi anak didik, bisa dipastikan anak didik tidak munkin lagi peka terhadap bobroknya realitas kebangsaan, apalagi berjuang dan melakukan anvokasi terhadap pemberdayaan kaum-kaum marjinal (tertindas). Sebaliknya, yang ada dalam benak anak didik hanyalah bagaimana anak didik cepat mendapatkan gelar sarjana dan memperoleh profesi yang bergengsi. Sebuah ironi ditengan bobroknya realitas kebangsaan diberbagai level.
Buku ini berusaha menggagas dan menjabarkan metode pendidikan berbasis Marxis-Sosialis yang menjadi counter part atas pendidikan “kapitalisme” yang selama ini menjadi ideologi sistem pendidikan internasional. Ideologi pendidikan yang digagas marx adalah bentuk gugatan atas merasuknya budaya kapitalisme dan pragmatisme dalam tubuh pendidikan. Hali ini bisa dipahami, karena Marx adalah satu-satunya pemikir besar yang mengidealkan tumbangya budaya kapitalisme dimuka bumi ini. Dalam kacamata pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).
Menurut Marx, pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan kapital (profit), melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaanya yang sejati. Marx mengidealkan terciptanya pendidikan kritis (critical pedagogy), pendidikan radikal (radical education) dan pendidikan revolusioner (revolutionary education) yang pada gilirannya mampu mencetak manusia yang betul-betul mau memperjuangkan kaum-kaum miskin (proletar) yang nota bene korban salah urus negara.
Bagi Marx, pendidikan bertujuan mencipatakan kesadaran kritis, bukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang mendukung proyek kapitalisme. Pendidikan yang terjebak pada pragmatisme untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis yang merupakan langka adaptasi terhadap perkembangan kapitalisme merupakan eksploitasi atas esensi terbentuknya lemabaga pendidikan.
Lebih dari itu, menurut pendidikan Marxis-sosialis, tujuan preneal dari proses manusia menuntut ilmu adalah untuk mengabdi bagi kemaslahatan kemanusian. “Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan pengetahuannya demi kepentingan kemanusian” demikian fragmen statemen Marx dalam salah satu karyanya.
Apa yang diidealkan Marx itu sangat kontras dengan karakter objektif para pelajar bangsa ini. Tidak bisa dibantah, 75 % orentasi pelajar menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan kerja bergengsi (profesi), menjadi tokoh populer, menjadi orang kaya, dan untuk mengangkat status sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Sedikit sekali pelajar yang betul-betul murni untuk memperjuangkan nasib kaum tertindas. Wajar, kalau keberadaan kaum terdidik di negara yang mayoritas muslim ini sudah tidak lagi menjadi aktor pemberdayaan kaum tertindas (the oppressed) dari belenggu penindasan dan ketidak adilan (dehumanisasi). Sebaliknya, justru kaum terdidiklah yang menjadi biang dari sekian problem sosial yang berlangsung ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Alih-alih mau mencari penawar atas sekian krisis sosial, keberadaan kaum terdidik menjadi bagian dari krisis sosial itu sendiri. Mulai dari koruptor, penjilat, politikus busuk, sampai komprador atau agen dari kepentingan global.

Selasa, 20 November 2012

Proyek UFO Hitler

Proyek UFO Adolf Hitler Bukan Fantasi


      Arsip-arsip amat rahasia Nazi mengungkapkan bahwa fantasi Adolf Hitler yang ingin menciptakan armada UFO Nazi yang bisa menghancurkan London dan New York memang kenyataan.
Perintah itu disampaikan saat pasukan Hitler di berbagai lokasi mundur.
Lokasi yang diduga sebagai tempat produksi UFO Nazi tersebut adalah serangkaian terowongan terowongan yang terkubur di bawah Lembah Jonas di Thuringia, pusat Jerman.
Di bawah komando Jenderal SS (polisi khusus Nazi) Hans Kammler, sejumlah kelompok pekerja budak bekerja keras untuk merealisasikan mimpi Hitler.
Majalah sains Jerman, PM, mengungkapkan betapa canggihnya program tersebut saat para ilmuwan bekerja keras di sejumlah pabrik rahasia untuk memproduksi UFO untuk memenangkan perang.
Majalah itu mengutip keterangan sejumlah saksi mata yang mengaku melihat sebuah piring terbang dengan tanda salib besi Jerman yang terbang rendah di atas Sungai Thames, Inggris, pada 1944 silam.
"Amerika juga menganggap serius keberadaan senjata tersebut. Agaknya, mesin tersebut mampu menempuh jarak 2.000 kilometer pada penerbangan perdananya," demikian dilansir The Sun.
AS yakin bahwa Jerman bisa menggunakan piring terbang untuk menjatuhkan senjata ke New York, sebuah target yang ingin diserang Hitler saat perang berlanjut.
Kala itu, New York Times melaporkan terlihatnya "piring terbang misterius" dengan foto-foto benda tersebut yang terbang dengan kecepatan amat tinggi di atas gedung-gedung di kota itu yang menjulang tinggi.
"Jerman telah menghancurkan sebagian besar berkas yang berisi aktivitas mereka, tapi ada sejumlah petunjuk yang membuktikan bahwa (armada UFO Nazi) memang ada," tambah harian tersebut.
Proyek UFO Nazi dipimpin oleh dua orang insinyur, Rudolf Schriever dan Otto Habermohl, dan berbasis di Praha, Ceko, antara tahun 1941 hingga 1943.
Proyek yang berawal dari sebuah proyek Luftwaffe tersebut akhirnya berada di bawah kendali menteri persenjataan Albert Speer sebelum kembali diambil alih oleh Kammler pada 1944.
Para saksi mata yang ditangkap pasukan sekutu setelah perang mengklaim pernah melihat piring terbang dalam beberapa kejadian.
Joseph Andreas Epp, seorang teknisi yang menjadi konsultan untuk proyek Schriever-Habermohl, mengklaim ada 15 prototipe UFO yang sudah dibuat.
Ia menjelaskan tentang bentuk pesawat berupa kokpit setral yang dikelilngi sayap dan baling-baling yang berputar dan membentuk sebuah lingkaran.
Baling-baling tersebut direkatkan dengan sebuah pita di sisi luarnya dan dibuat berputar dengan roket-roket kecil yang dipasang di sekitar lingkaran.
Ketika kecepatan rotasinya cukup dan piring terbang mengangkasa, kemudian dinyalakan jet atau roket horizontal untuk menggerakkannya.
Dalam bukunya terbitan tahun 2000, Prawda O Wunderwaffe, Igor Witkowski, seorang sejarawan dan jurnalis Polandia yang mendalami bidang militer dan teknologi luar angkasa, mengklaim bahwa Hitler ingin para ilmuwannya tetap ada untuk membuat pesawat berbentuk bel.
Sedemikian mengesankannya teknologi Nazi yang ditemukan di akhir perang, para ilmuwan roket V-2 sampai diburu oleh AS dan Uni Soviet untuk dipekerjakan dalam program peluru kendali dan luar angkasa masing-masing.
Lebih dari 120 ilmuwan roket, termasuk Wernher von Braun, yang menjadi tokoh sentral di NASA, menemui teknisi Jerman Georg Klein dan mengklaim bahwa ada dua jenis piring terbang yang diciptakan Nazi.
Klein, yang setelah perang berkarier sebagai insinyur aeronautika, mengatakan, "Saya tidak gila, eksentrik, atau berfantasi. Ini yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, sebuah UFO Nazi!"
Sejumlah kru pesawat pengebom Amerika dan Inggris juga melaporkan penampakan aneh di atas wilayah musuh.

Politik Pemiskinan Ala Pemerintah

Politik Pemiskinan Ala Pemerintah 

 

 

Kenaikan harga BBM ditunda, akan tetapi kebutuhan dasar (pangan, papan, kesehatan, pendidikan) tetap merangsek naik. Sektor riil di Indonesia belum bangkit. Penghasilan dan daya beli masyarakat tetap. Pengganggur meningkat. Orangtua terpaksa mengorbankan pendidikan anak dan kualitas gizi makanannya. Generasi hilang sudah didepan mata! Namun peran negara justru semakin lemah terhadap mayoritas rakyatnya yang menjerit dihimpit beban ekonomi. Memakai batas garis kemiskinan 2 dollar per hari dari bank dunia (2010), jumlah penduduk miskin dan rentan menjadi miskin di Indonesia adalah 108,78 juta (49%). Empat dari 23 indikator yang digunakan untuk menentukan hal ini adalah: pertikaian politik yang berlarut-larut, bencana alam karena kelalaian manusia, ketidakadilan dalam sistem pembagian kekayaan, serta pertumbuhan dan kebijakan pembangunan yang tidak memihak kaum miskin. 

Wujud paling kasar dari ketidakadilan sosial adalah kemiskinan struktural. Seberapa pun kerasnya berusaha, orang tetap tidak berdaya dalam suatu relasi ketergantungan yang tidak seimbang. Tergilas ekonomi pasar yang tidak peduli berapa banyak orang jatuh miskin. Indonesia negara maritim, tetapi nelayannya miskin. Negara agraris, tetapi petaninya miskin. Seyogyanya negara mengatasi kemiskinan bukan dengan bantuan yang membuat orang merasa miskin, tetapi kaum miskin memiliki akses memperoleh kebutuhan dasar. Martabat orang miskin terjaga ketika mereka menjadi tuan atas nasib sendiri. Kesenjangan sosial bukan direspon dengan membenturkan kaum berpunya dan kaum tak berpunya. Politik pengentasan kemiskinan menjamin hak-hak ekonomi warga. Ketidakadilan sosial adalah potret kegagalan pemerintah dalam mendekontruksi struktur-struktur yang tidak adil. Tingkat bunuh diri dikalangan masyarakat dari berbagai jender dan usia yang diberatkan akibat kenaikan harga berbagai komoditas dan pelayanan sosial merupakan hasil ketidakmerataan pembangunan ekonomi. 

Mereka adalah korban krisis pangan global, liberalisasi ekonomi, persaingan global, pemangkasan subsidi, dan jeratan utang rentenir. Rakyat merindukan kebangkitan bangsa. Kebangkitan ekonomi! Warga korban lumpur Lapindo tiba-tiba menjadi miskin karena lemahnya peran negara. Kekayaan bumi kita disedot kapitalis asing. Kita menjual minyak dan gas alam ke luar. Namun ketika kita perlu, kita membelinya dari Singapura yang tidak punya sumber daya alam. Dulu sumber daya alam kita dikuasai penjajah asing, kini kita sesak napas dalam cengkraman perusahaan multinasional. Pemerintah giat menarik investasi asing, tetapi tidak serius mengambil hati warga sendiri untuk berinvestasi dan membiarkan modal WNI menumpuk di Singapura. Tentu ini bukan soal nasionalisme. Elite politik kita rela memberikan konsesi kepada asing dengan menggadaikan kekayaan negeri. Membangun negeri diatas modal asing sama dengan menanam bom waktu pada pembangunan. Rakyat dihimpit beban berat. Namun, tidak ada gerakan dari pemerintah untuk memangkas gaji dan fasilitas pejabat. 

Sementara politisi berasyik-asyik dengan politik pencitraan. Penyelenggara negara menikmati kemewahan diatas kemiskinan sebagian besar rakyat. Mengutip kata Tan Malaka, rakyat dibuat susah oleh kaum nasionalis-imperialis. Nasionalis sebutannya, imperialis perbuatannya. Negeri miskin seperti Bolivia berhasil membuat sumber daya minyaknya kembali dinikmati rakyat. Mengapa Indonesia tidak mampu melakukan hal itu? Sungguh ironi, ditanah yang penuh kekayaan alam berjuta rakyat menggantungkan hidupnya diatas bantuan langsung yang memiliki rentang waktu.

Sejarah Berdirinya GERWANI

Sejarah Berdirinya GERWANI


GERWANI,….pernahkah kita semua mendengar kata-kata ini,…ya sebuah kata yang terdengar begitu menyeramkan terutama di masa Orde Baru ketika penguasa pada saat itu selalu mendoktrin kita dengan ungkapan-ungkapan “awas bahaya laten komunisme”, ya Gerwani, sebuah organisasi perempuan yang selalu diidentikkan dengan tragedi nasional tanggal 30 September 1965, dimana pada peristiwa tersebut Gerwani dikatakan telah melakukan berbagai kegiatan yang dianggap ‘telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia’, melakukan ‘penyelewengan moral’ dan ‘kontrarevolusioner’ . Melalui koran-koran yang telah dikontrolnya, semenjak tanggal 11 Oktober 1965 Angkatan Darat menyebarkan cerita bahwa Gerwani terlibat dalam Gerakan 30 September, melakukan pelecehan seksual (permainan cabul, dimana disebutkan bahwa sukarelawan-sukarelawan Gerwani telah bermain-main dengan para Jendral, dengan menggosok-gosokkan kemaluan mereka ke kemaluan sendiri, perempuan-perempuan anggota Gerwani dikabarkan menari-nari telanjang dihadapan para Jendral, menyilet tubuh mereka dan juga memotong kemaluan para perwira) terhadap para perwira yang diculik, memotong kemaluan dan mencungkil bola mata mereka. 

Gerwani dituduh telah melakukan pesta seks liar dengan para anggota Pemuda Rakyat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan sebuah histeria massa yang sangat marah terhadap semua yang “dianggap komunis” seperti PKI,BTI, CGMI, termasuk kepada Gerwani, sehingga tak ayal lagi pasca tragedi 65 terutama pada awal November 1965, ketika Soeharto di hadapan sekitar 30 ribu massa perempuan anggota sejumlah organisasi yang tergabung dalam Seksi Wanita Koordinasi Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu mengatakan bahwa Gerwani adalah kumpulan perempuan yang ‘telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia’, melakukan ‘penyelewengan moral’ dan ‘kontrarevolusioner’. Mulailah pada saat itu dilakukan operasi pengganyangan terhadap aktivis-aktivis Gerwani yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat sipil, seperti Pemuda Anshor, Banser, Pemuda Marhaen, dengan mendapat dukungan dari tentara yang kerapkali melakukan maneuver-manuver serta show of force dalam rangka aksi-aksi pengganyangan terhadap gerakan komunis di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh satu batalyon RPKAD yang dikirim dari Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1965 dimana kolonel Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan RPKAD langsung memimpin operasi tersebut. 

Mulai saat itulah teror-teror mulai melanda organisasi-organisasi yang dianggap kiri termasuk terhadap Gerwani…..vandalisme ini sangatlah membabi buta sebagai imbas dari provokasi-provokasi angkatan darat yang seakan-akan menganggap Gerwani sangatlah wajib untuk diganyang dan menimbulkan efek ingatan massa yang sangat negative terhadap Gerwani sampai saat ini,…setelah 42 tahun peristiwa itu berlalu sampai saat ini saya masih sering mendengar ketika orang marah dan mengumpat orang yang dimarahinya masih sering kita dengar kata-kata “dasar PKI!!”, “dasar Gerwani!!!!”,…sungguh alangkah tragisnya dibalik umpatan-umpatan tersebut sebenarnya ada banyak hal yang kita lupakan dari organisasi yang sebelumnya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar)ini,…

Di dalam wacana kesejarahan di Indonesia, sumbangan gerakan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan kurang diperhitungkan sebagai sebuah kekuatan yang berarti, tercatat nama Laskar Wanita Indonesia atau Laswi yang kini dijadikan nama sebuah jalan di kota Bandung, begitupun juga Gerwis yang merupakan cikal bakal dari gerwani yang didirikan pada tanggal 4 Juni 1950 tercatat sebagian besar anggotanya adalah perempuan-perempuan yang terlibat langsung dalam perang kemerdekaan melawan Jepang dan Belanda pada 1940-an (tercatat nama S.K. Trimurti seorang tokoh kemerdekaan yang meninggal baru-baru ini sebagai salah seorang tokoh Gerwis), hal inilah yang kemudian banyak menjadi ilham bagi para perempuan yang terlibat revolusi fisik tersebut untuk bergabung didalam Gerwis sebelum kemudian berganti nama menjadi Gerwani karena mereka ingin menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka untuk kemajuan bangsanya. Gerwis sendiri adalah merupakan hasil dari Enam organisasi yaitu Rupindo (Rukun Putri Indonesia; Semarang); Persatuan Wanita Sedar (Surabaya), Istri Sedar (Bandung), Gerwindo (Gerakan Wanita Indonesia; Kediri), Wanita Madura (Madura), dan PPRI (Perjuangan Putri Republik Indonesia; Pasuruan).

Pada kongres Gerwis I di Semarang pada 1951 konsep ‘perempuan sedar’ sudah menjadi bahan perdebatan sengit. Perdebatan itu pada akhirnya berkait dengan apakah Gerwis tetap akan mempertahankan bentuk organisasi kader atau beralih menjadi organisasi massa Dalam Kongres Gerwis II, 1954, kata ’sedar’ akhirnya dihapus. Nama Gerwis berubah menjadi Gerwani dan garis massa menggantikan garis kader, ada alasan yang cukup kuat yang mendasari perubahan nama ini. Kata “sedar” dalam Gerwis dianggap hanya mengutamakan perempuan golongan menengah dan terdidik yang sudah sadar akan hak-haknya, sementara ada jutaan perempuan Indonesia yang dianggap belum “Sedar”dan harus dilibatkan dalam memperjuangkan kemajuan bangsa. Didasari pandangan kerakyatan inilah kemudian Gerwani ingin agar buruh, dan tani perempuan juga aktif dalam kegiatan politik untuk memperkuat republik yang baru berdiri ini. Seluruh kegiatan Gerwani bertujuan untuk mendidik anggotanya menjadi perempuan yang sadar politik. Perempuan-perempuan ini kemudian didorong untuk merawat dan mendidik rakyat.

Pendidikan berlangsung melalui kegiatan yang programatik maupun kegiatan-kegiatan informal yang berlangsung dalam pergaulan keseharian antar-anggota atau dalam pergaulan anggota Gerwani dengan masyarakat. Kegiatan-kegiatan antara lain adalah anjangsana dan turba; ceramah dan pertemuan-pertemuan rutin, seperti rapat dan arisan; kursus-kursus keterampilan dan kursus pemberantasan buta huruf maupun pendirian TK Melati, juga terlibat didalam perjuangan pembebbasan irian barat dengan menjadi tenaga sukarelawati, selain itu tercatat ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963 Gerwani di Bali bekerja sama dengan pemerintah memberikan bantuan kepada pengungsi.

Pada 1950, Indonesia baru keluar dari situasi perang. Pemerintah menetapkan peningkatan dan perluasan pendidikan sebagai prioritas pembangunan bangsa. Pendidikan dianggap sebagai prasyarat mendasar untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial di Indonesia. Gerakan perempuan yang sudah berpengalaman melakukan gerakan pemberantasan buta huruf sejak paruh pertama abad 20 segera melibatkan diri dalam proyek nasional ini dengan membangun ratusan, mungkin ribuan, taman kanak-kanak (TK) dan kursus-kursus pemberantasan buta huruf (PBH). Gerakan perempuan menambahkan kepentingan mereka, yaitu memajukan kesejahteraan perempuan dan anak-anak, di dalam tujuan gerakan pendidikan nasional. Gerwani, sebagai bagian dari gerakan perempuan, terlibat dalam gerakan pendidikan nasional ini. Gerwani juga mengklaim telah mendirikan 1.478 TK Melati di berbagai wilayah di Indonesia. Didalam pendiriannya TK Melati diserahkan pada pengurus ranting setempat. Pengurus ranting seringkali melibatkan pihak kelurahan dan anggota-anggota masyarakat lain untuk menyediakan tempat dan peralatan TK model penggalangan dana bisa dilaksanakan dengan mengadakan pertunjukan wayang dan menjualnya tiket pertunjukannya untuk mendirikan TK Melati.

Aturan tentang biaya sekolah berbeda-beda antara satu TK Melati dengan TK Melati yang lain. Seperti juga peraturan tentang biaya sekolah, aturan tentang honor guru juga berbeda-beda. Sebagian TK Melati tidak memberikan honor sama sekali pada guru. Sebagian lain memberi honor seadanya Gerwani merekrut tenaga-tenaga guru untuk kursus PBH dan TK Melati terutama dari kalangan anggotanya sendiri. Mereka juga mengambil tenaga lulusan-lulusan baru sekolah guru yang sebagian di antaranya adalah anggota Pemuda Rakyat. Syarat untuk menjadi tenaga pengajar dalam kursus PBH dan TK Melati yang diselenggarakan Gerwani tidak berat. Perempuan yang sudah pernah duduk di bangku SMP walaupun tak lulus tetap bisa menjadi guru kursus PBH dan TK Melati. Pada dasarnya Gerwani lebih memilih untuk menyelenggarakan institusi pendidikan yang murah yang bisa diakses oleh masyarakat miskin, dibanding sekolah dengan peralatan lengkap namun hanya bisa dijangkau oleh kelompok masyarakat yang mampu membayar mahal. Namun pilihan ini tidak bisa disederhanakan menjadi sekedar pilihan kualitas versus kuantitas karena TK Melati tetap bisa memenuhi tujuan pendirian TK, yaitu mempersiapkan anak untuk memasuki dunia pendidikan formal. 

Oleh karena itu, mendongeng, bernyanyi dan bermain menjadi penting. Dimana didalam dongeng-dongeng ini pelajaran mengenai kebersihan, kesehatan, seperti membersihkan diri, mandi, menyisir rambut, memakai alas kaki, memotong kuku, serta kebersihan tubuh terus diperhatikan. Pengenalan mengenai rasa kebangsaan dan klektifitas diantara sesama rakyat didalam diri anak kerapkali disampaikan didalam mata pelajaran Budi pekerti yang juga kerap disampaikan dalam bentuk dongeng seperti kisah gajah dan semut berikut ini :

 “Ada gajah, ada semut. Ada semut masuk telinga gajah. Itu gajah jadi binasa. Itu semut bikin kalang kabut. Itu cerita dari mbah buyut. Anak-anak, kalo sut itu kan gini ya, ini jempol ini gajah, ini semutnya ini. Tapi ini kok menang? Ding, ding, menang semut. Karena apa? Karena semut itu meskipun kecil banyak temannya buaaanyak sekali, membuat lubang di dalam tanah. Setelah itu, tanahnya kan di bawah itu, itu grogong atau lobang. Terus gajah lari-lari di anu, gajahnya masuk situ ndak bisa keluar karena telinganya dimasuki semut semua. Semut merubung gajah. Gajahnya gini, gini, gini, godag-godeg, akhirnya gajahnya mati. Jadi, orang yang gede itu tidak boleh sombong. Tapi rakyat kecil ya jangan diinjak-injak. Karena rakyat kecil juga mempunyai kekuatan yang besar juga. 

Selain melalui dongeng, kesadaran kerakyatan juga diajarkan melalui lagu-lagu, diantaranya lagu Menanam Jagung:

 “Ayo kawan kita bersama menanam jagung… Pak tani nanam jagung. jagung untuk apa?”
“Jagung untuk jenang (bubur), untuk ini, untuk grontol, untuk ini, Bu.”
“Jagung yang nanam siapa?”
“Pak tani.”

Acara makan bersama juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan pada anak-anak bahan dasar makanan rakyat yang murah dan bergizi :…, “Mangan barang-bareng, engko lawuhe mung tempe, Le, kondo ibune tempe. Sego-tempe.” (“Makan sama-sama, nanti lauknya hanya tempe, Nak, bilang ibunya tempe. Nasi-tempe.”) Semua sego-tempe bawa dari rumah, ndak gurunya ndak kudu – ‘tempe asale soko dele, enak rasane, murah regane’ .

Tetapi sayang seribu sayang kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang banyak dilakukan oleh Gerwani harus terhenti pasca tragedi 65, selain itu sebagai imbas dari tragedi ini pencitraan Gerwani menjadi sangat negatif hal ini ditandai dengan Penghancuran TK Melati yang berjalan bersamaan dengan penghancuran Gerwani. Militer dan kelompok-kelompok massa sipil yang diorganisirnya memburu guru-guru TK Melati yang sebenarnya tidak seluruhnya anggota Gerwani. Tempat-tempat yang menjadi tempat KGTK (Kursus Guru TK) Melati dan pondokan bagi calon-calon guru dibakar oleh militer bersama-sama massa. Anggota-anggota militer melakukan pelecehan seksual terhadap para calon guru TK Melati yang ditampung di rumah itu banyak guru perempuan anggota Gerwani dan organisasi-organisasi lain maupun pengajar di TK Melati menjadi korban perkosaan komandan Buterpra yang melakukan operasi pembersihan terhadap aktivis-aktivis Gerwani.

Peristiwa 1965 yang kemudian melahirkan rezim Orde Baru memaksa sebagian mantan aktivis Gerwani untuk mengingkari sejarahnya sendiri Setelah Gerwani hancur, sebagian dari anggotanya merasa trauma dan berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dengan menutup jejak keterlibatan mereka dalam organisasi itu. Ada banyak aktivis Gerwani yang kemudian ditahan dan dibantai sehingga dari peristiwa ini banyak melahirkan trauma bagi mantan aktivis Gerwani mengenai apa dan bagaimana dulu dengan gagah beraninya mereka berjuang demi republik yang mereka cintai, ada banyak mantan aktivis Gerwani yang cenderung memilih diam tak bersuara,..meskipun saat ini pasca jatuhnya rezim Orde Baru sudah mulai banyak dari mantan aktivis Gerwani ini untuk berbicara mengenai apa dan bagaimana kontribusi mereka bagi republik ini,...yang kemudian harus terdzolimi oleh sebuah angkara murka yang terjadi di tahun 65-68 yang memunculkan stereotip negatif terhadap mereka.