Rabu, 18 Mei 2016

Penafian Sejarah dan Realita

Penafian Sejarah dan Realita

 “KAOEM TIONGHOA, ARAB, PERANAKAN dari segala bangsa dan lain2 Bangsa-Asing! P.K.I Komintern dan Komunisme tidak memoesoehi dan membentji bangsa lain. P.K.I. Komintern dan Komunisme memoesohi dan membentji KEKEDJAMAN dan KETIDAKADILAN. Pertegoehkanlah barisan toean2 oentoek membantoe oesaha KEMERDEKAAN. Djangan menghalang-halangi oesaha Rakjat Indonesia oentoek menoentoet HAK2NJA. KAOEM BOEROEH dan TANI seloeroeh Indonesia Pertegoehkanlah BARISAN dan BENTENGMOE. KAMOELAH jg mendjadi TOELANG-POENGGOENG Kemerdekaan Indonesia…”




Meskipun begitu, hingga sekarang kaum fasis masih saja memanipulasi kenyataan ini. Komunisme distigma sebagai anti agama dan anti Pancasila. Malah belakangan, setelah diselenggarakannya Simposium 65, propaganda anti komunisme kaum fasis makin gencar dan brutal. Seorang pemuda dipukuli di pinggir jalan hanya karena memakai pin berlambang palu arit; perjuangan para petani melawan perampasan tanah dan perusakan lingkungan distigma sebagai musuh negara; seorang aktivis lingkungan memakai kaos belambang palu arit dalam sebuah peringatan May Day 1 Mei 2016 dituduh melawan Pancasila; beberapa penerbit buku di Yogyakarta digeledah oleh aparat karena menerbitkan buku-buku kritis; dan terakhir razia atau sweeping terhadap buku-buku kiri yang terjadi di beberapa kota.

Mulai kapan Pancasila anti terhadap KOM? Bukankah dalam pidatonya di bulan Desember 1965, Soekarno mengatakan Pancasila tidak anti KOM? Sikap anti KOM ini tidak tiba-tiba turun dari langit, melainkan diciptakan oleh sebuah rezim melalui berbagai rupa propaganda dan teror. Anehnya, polanya selalu sama: Membenturkan sesama rakyat agar saling tikam di antara mereka. Sementara sang tuan fasis dan tuan kapitalis sendiri sambil meminum kopi dan menghisap cerutu tinggal menunggu hasilnya.

Benarkah PKI bangkit lagi? Saya tak akan langsung menjawabnya. Melainkan mengelaborasi prasangka dan fitnah yang dipropagandakan kaum fasis itu sendiri, sembari mengajak semua pihak untuk menengok kembali selintas sejarah perjuangan kaum pergerakan di Zaman Bergerak. Kalau kita baca kajian mengenai Marxisme dan gerakan komunis di Indonesia yang ditulis dengan tujuan sebagai propaganda fasis anti komunis dan sayap kanan pro kapitalis, hampir sebagian besar kajian tersebut gagal memahami butir-butir utama pemikiran Marxisme—karena memang tidak langsung membaca teks-teks kunci Marx dan Engels maupun para pemikir Marxis lainnya—sehingga bermuara pada reduksionisme. Intinya, sulit kita temukan ulasan tentang Marxisme dan komunisme yang ditulis dengan semangat anti Komunisme, berangkat dari sumber pertama atau dari komentator-komentator yang otoritatif.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengerti suatu hal (marxisme/komunisme), mengritik atau menghujat hal tersebut dan menganggapnya sebagai “sampah?” Kata sampah ini juga yang dipakai oleh Sastro Al-Ngatawi, salah seorang pegiat acara-acara seni, dalam menanggapi beredarnya foto Pius Ginting, seorang aktivis lingkungan yang memakai kaos palu arit pada peringatan May Day 2016. “Apa bangsa ini gemar menampung sampah ya? Komunis sudah jadi sampah di tempat lain, di sini dikagumi para aktivis. Hizbut Tahrir yang sudah dibuang dan dilarang di tempat asalnya, di sini malah dipuja-puja” demikian ujarnya. Benarkah Komunisme sampah di tempat lain? Tempat lain yang mana? Dimanakah letak ke-sampah-an komunisme? Sepertinya ia tak tahu kalau Partai Komunis Palestina menjadi partai terbesar kedua di Palestina, yang turut memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Atau lupa bahwa komunisme menyumbang banyak pada kemerdekaan Indonesia dibanding Soeharto dan jenderal-jenderal lulusan KNIL. Baiklah, anggap saja Marxisme dan Komunisme sebagai sampah. Yang jelas kader-kader PMII dan HMI tak akan bisa bicara teori Hegemoni tanpa terlebih dulu membaca Antonio Gramsci yang komunis. Bahkan mereka tak akan mampu bicara apa-apa mengenai dunia hari ini (baca: realitas Late Capitalism) tanpa membaca kembali traktat barisan para pemikir Marxis/komunis.

Tentu saja kalau ia membaca marxisme dengan baik, akan mengajukan kritik yang agak serius semacam Ali Syariati, atau minimal menulis esai pendek semacam Gus Dur, ketimbang menumpahkan kebencian (terhadap komunisme), dengan menganggap sampah suatu gagasan. Saya juga menduga yang bersangkutan tidak pernah membaca secara sistematis tiga jilid Das Kapital Marx, yang lumayan memusingkan kepala manusia dengan kecerdasan pas-pasan semacam saya. Atau pernah selesai membaca satu saja karya Marx dan membuat catatan kritis atasnya.

Mengenai karyanya yang rumit tersebut, Marx sendiri mengingatkan sahabatnya, Ludwig Kugelmann, “Tolong beri tahukan istrimu, bahwa bab tentang ‘Hari Kerja’, Koperasi, Pemilahan antara Tenaga Kerja dan mesin, dan terakhir mengenai ‘Akumulasi Primitif’ adalah yang paling langsung bisa dibaca. Kau harus menjelaskan terminologi yang tak dipahami untuknya. Kalau ada poin-poin yang meragukan, aku siap membantu”. Pesan Marx sepertinya tak hanya berlaku bagi istrinya Kugelmann, melainkan kita semua yang hendak membaca Das Kapital. Nah, karena Marx sudah tidak ada, komentator-komentatornya yang otoritatif lah yang akan membantunya. Misal, untuk mempermudah baca Das Kapital, kita bisa terlebih dulu membaca Reading Capital-nya Luis Althusser dll.

Fatalnya lagi, karena minimnya belajar banyak orang dengan gegabah menyamakan komunisme yang memperjuangkan politik kelas dengan Islam Politik semacam HTI yang memperjuangkan politik identitas. Jadi, dimanakah kesamaan komunisme dan Hizbut Tahrir? Ini harus didudukkan secara jernih. Menganggap diktatur proletariat sebagai sama sebangun dengan Khilafah Islam merupakan kesalahan fatal. Dan lebih fatal lagi, menganggap diktatur proletariat sebagai Stalinisme dan menuding Komunisme sebagai anti keragaman dan anti demokrasi. Mengenai demokrasi dalam sosialisme, saya sarankan mereka, khususnya Sastro, membaca karya Marx, The Civil War in France, 1871 mengenai Komune Paris atau pemerintahan Komunis yang dijalankan secara demokratis pertama kali oleh kelas pekerja Paris pada 1871. Bahkan, untuk hal ini Nicos Poulantzas mengatakan bahwa sosialisme harus menjadi demokratis atau tidak menjadi apa-apa sama sekali. Dengan demikian, logika berpikirnya mestinya begini: “Karena dalam sejarah Islam pernah ada targedi Mihnah yang memalukan dan menjijikkan, tidak otomatis Islam menjadi sampah; karena saat ini banyak orang gemar gembar-gembor Islam rahmatan lil alamin tapi tak mau membela TKI-TKI yang diperkosa, tak mau membela petani yang dirampas tanahnya, dan membiarkan perusakan lingkungan terjadi di mana-mana, tidak otomatis Islam menjadi sampah”. Demikian juga dengan Marxisme. Mudah sekali kan?

Sementara mengenai politik kelas Marxisme/komunisme, saya tak akan mengutip dari dasar pikiran Marx yang rumit. Agar lebih mudah dicerna, izinkan saya mengutip kembali lanjutan “Makloemat Partij Komunis Indonesia ke-4” sebagaimana dimuka dengan lebih lengkap,
“KAOEM TIONGHOA, ARAB, PERANAKAN dari segala bangsa dan lain2 Bangsa-Asing! P.K.I Komintern dan Komunisme tidak memoesoehi dan membentji bangsa lain. P.K.I. Komintern dan Komunisme memoesohi dan membentji KEKEDJAMAN dan KETIDAKADILAN. Pertegoehkanlah barisan toean2 oentoek membantoe oesaha KEMERDEKAAN. Djangan menghalang-halangi oesaha Rakjat Indonesia oentoek menoentoet HAK2NJA. KAOEM BOEROEH dan TANI seloeroeh Indonesia Pertegoehkanlah BARISAN dan BENTENGMOE. KAMOELAH jg mendjadi TOELANG-POENGGOENG Kemerdekaan Indonesia…”
Terang sudah bahwa sejak semula fondasi perjuangan Komunisme adalah politik kelas, bukan politik identitas. Tanpa politik kelas, ambruklah seluruh narasi emansipatoris Komunisme. Pada titik ini, justru internasionalisme Komunisme selaras dengan visi pembebasan Islam yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam yang meliputi aspek pemakmuran bumi (alimarah), pemeliharaan (ar-ri’ayah), dan perlindungan (alhifzh) dari segala ancaman yang hendak merusaknya. Bukan rahmatan lil muslimin, apalagi sekedar lin Nahdliyin? Perjuangan pembebasan komunisme yang melampaui sekat-sekat agama, dan etnis inilah, menyebabkan Komunisme dan Islam secara aksiologis berkesesuaian. Keduanya “memoesohi dan membentji KEKEDJAMAN dan KETIDAKADILAN”. Ini jugalah yang menjadi saripati Pancasila yang berulangkali diungkapkan Bung Karno. Jadi, kalau ada komunis yang menganjurkan kekejaman dan ketidakadilan maka bukan komunis namanya. Demikian juga dengan Islam. Tapi, ada catatan: jangan sekali-kali pernah menggeneralisir Marxisme dan Komunisme sebagai Stalinisme dan jangan pula menggeneralisir Islam sebagai Usamah bin Laden, atau Yazid bin Muawiyah yang despot dan kejam. Pendeknya, komunisme memperjuangkan politik kelas bukan politik identitas. Komunisme melawan kapitalisme dan feodalisme, bukan melawan agama.

Bermula dari kegagalan membaca Marx dan Marxisme, kekeliruan yang dibumbui dengan kelicikan dan penipuan direproduksi oleh para demagog orde baru yang fasistis. Karena ketidakmampuannya membaca dengan teliti dan jernih jalinan konseptual Marx yang rumit, kemudian dengan mudah dipukulnya sebagai sampah.

Bisa jadi memang kaum fasis dan kapitalis sangat takut dengan PKI, karena sejarah mencatat partai ini memiliki disiplin dan moral partai yang belum ada bandingannya dalam sejarah politik Indonesia modern, apalagi jika dibandingkan dengan partai-partai yang ada saat ini—yang semuanya mengaku relijius, namun isinya sebagian besar perampok— jaraknya baina al-sama’ wa al-ardli (antara langit dan bumi). Bahkan, konon kata Prajurit yang berasal dari bahasa Jawa Prasaja+Jujur+Irit, sebagaimana kita kenal selama ini, seringkali disematkan pada pengurus dan kader partai ini untuk menunjukkan kualitas pribadi dan komitmen perjuangannya. Bayangkan saja, untuk membikin kongres, berbeda dengan partai dan ormas-ormas sekarang yang mengandalkan dana Bansos, dana APBD, dan sedekah dari perusahaan-perusahaan, mereka justru iuran dan mewajibkan setiap kader dan anggota partai untuk mengurangi jatah rokoknya untuk menjaga independensi dan kosistensi perjuangannya. Dengan inilah mereka berani mengatakan tidak pada segala rupa penindasan dan konsisten berjuang membela kaum lemah.

Bukan bermaksud melebih-lebihkan, ketika bergabung dengan partai, sejak semula mereka telah siap dengan segala resiko yang terjadi dalam melawan kolonialisme, kapitalisme dan fasisme. Sebagaimana tampak dalam catatan Soeryana, menunjukkan bahwa partai ini memang mempunyai kader-kader yang “tidak mudah goyang karena kesengsaraan-kesengsaraan fisik, moril, dan materiil. Mereka semenjak semula masuk Partai sudah diberikan perlengkapan persiapan pikiran untuk ‘tiga B’, yaitu ‘Bui, Buang, Bunuh’ artinya dipenjara, diinternir atau diasingkan, dan mati dalam perjuangan”. Militansi ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan aktivis hari ini yang sekedar cari makan dan kedudukan sendiri. Ketakutan ini wajar bagi mereka yang fasis, anti rakyat dan pro pasar, karena Komunisme tak hanya memiliki analisis yang jitu tapi juga konsistensi perjuangan yang tiada bandingnya.

Lebih lanjut Soeryana mengatakan, “para kader PKI ini, terutama yang berasal dari Angkatan 26 (Digulis), militansinya tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka di dalam penjara. Kesengsaraan yang menimpa diri mereka, kadang-kadang diromantisir dengan ungkapan kata, guna membangun vitalitetnya sendiri. Seperti mereka senantiasa katakan ‘Kesengsaraan akan terus menimpa kita, akan tetapi selama partai ada, kita akan tetap mencari jalan keluar untuk mengatasinya’. Bahkan secara diam-diam atau bi al-sirri (sembunyi-sembuyi) mereka mengorganisir di dalam penjara dengan mengadakan: pendidikan teori dengan kursus-kursus politik dan agitasi dan propaganda. Militansi ini tak jauh beda dengan perjuangan nabi Muhammad SAW dan para sahabat pada masa pembentukan Islam awal dalam menghalau teror kaum kafir Quraisy.

Namun yang menggelikan, rupanya banyak pula, mereka yang mengaku intelektual, atau setidaknya selama ini dianggap demikian, mengidap paranoia dengan lambang Palu Arit dan phobia terhadap KOM. Padahal lambang palu dan arit merupakan simbol kelas pekerja, simbolnya mayoritas umat manusia yang dihisap oleh modus produksi kapitalisme. Padahal dari pekerjaan merekalah kita semua bisa menikmati hidup. Merekalah produsen sesungguhnya dari apa yang selama ini kita konsumsi. Dengan itu, mereka terasing dari diri dan karyanya sendiri. Kelak bisa saja simbol itu diubah menjadi gergaji, bor kayu, atau cangkul yang di atasnya ada gambar Ka’bah atau Al-Qur’an untuk meneguhkan bahwa kelas pekerja yang sedang berjuang membebaskan dirinya dari keterasingan dan meraih keadilan, juga beragama dan membaca Al-Qur’an selain membaca Das Kapital dan Manifesto Komunis.

Paranoia juga telah menjadikan seseorang gampang emosi dan tidak jernih melihat persoalan. Kegaduhan dan reaksi terhadap HTI, membuktikan hal ini. Sikap reaktif Islam moderat terhadap HTI, sebenarnya tak hanya dipicu oleh tak berkesudahannya perdebatan tafsir Islam di antara mereka, melainkan juga rasa frustasi Islam moderat menghadapi militansi HTI (dan tentu juga PKS) dalam mengorganisir umat Islam. Ini menyedihkan, karena tak sepakat dengan HTI, kelompok beberapa pihak, atas dukungan militer, menganjurkan untuk merobek bendera HTI. Saya kuatir, setelah dengan enteng merobek bendera, selangkah lagi mereka akan merobek dada orang. Tentu saja saya tidak bermaksud membela HTI, karena saya sendiri tak setuju dengan HTI. Tapi bukan dengan cara-cara brutal menyikapinya, melainkan melalui kesanggupan kita berkontestasi secara fair, dengan beradu argumen dan strategi.

Belajar dari Lenin, HTI dan PKS berpolitik secara realis. Mereka kembali kepada problem yang dihadapi massa rakyat di mana mereka berpijak. Mereka membikin sel-sel pengkaderan, menjadikan masjid sebagai basis perjuangannya, membikin koran-koran dan buletin yang disebarkan di hampir semua masjid, dan mampu mengelola dana amal yang luar biasa besar dengan amanah dan professional. Inilah yang tak dilakukan oleh kelompok Islam moderat. Mereka membicarakan Islam damai tapi memunggungi massa rakyat. Berdiskusi di hotel-hotel. Tidak mengorganisir massa rakyat, melainkan mengerjakan kegiatan pemberdayaan berbasis program-program donor yang akan habis ketika dana donor habis. Cuek saja dengan kenaikan BBM, membiarkan buruh dan petani berjuang sendiri. Dan mohon maaf, kaum kelas menengah penganjur Islam rahmatan lil alamin di perkotaan ini tidak saleh-saleh amat dalam beragama. Malah sering saya dapati mereka jarang shalat, atau malah meremehkan ibadah mahdlah yang sangat fundamental bagi umat Islam. Kalaupun ada yang rajin ke masjid, seperti kader-kader IPNU dan IPPNU contohnya, lagi-lagi tidak realis. Kegiatannya tidak menyasar problem nyata yang dihadapi umat. Mereka tergagap-gagap dengan situasi zamannya. Tercerabut dari lingkungannya. Disinilah pentingnya belajar pada komunisme. Jangan-jangan, HTI dan PKS ini justru sudah baca What is To be Done-nya Lenin sebagai bahan ajar strategi perjuangan mereka. Sementara kita, Tidak.


***
Kembali ke persoalan Komunisme. Sekarang, kaum fasis anti rakyat, anti umat, anti demokrasi (pseudo demokrat) takut melihat gerakan rakyat, terutama gerakan Petani melawan perampasan tanah yang disebut Marx sebagai “primitive accumulation” dan perusakan lingkungan, dan gerakan buruh yang makin menunjukkan posisi politiknya. Ketakutan tersebut tak lain karena selama ini mereka memunggungi rakyat. Tidak pernah terlibat dalam memperjuangkan nasib para buruh dan petani. Mereka, kaum fasis dan kapitalis berkolaborasi dalam menghancurkan Indonesia. Maka itu, di tengah malapetaka sosial negeri ini, umat Islam tidak boleh ikut-ikut menjadi fasis. Sangat disayangkan pegiat seni sekelas bung Sastro, ikut-ikut melontarkan statemen, yang menurut saya, gegabah dan berlebihan. Justru kondisi karut marutnya Indonesia ini harusnya bisa dijadikan sebagai ladang perjuangan bagi kita umat Islam untuk menerjemahkan visi rahmatan lil alamin di kehidupan nyata. Fastabiqul khairat, bahu membahu membela yang dilemahkan. Bukan malah justru turut dalam pusaran permainan militer, atau mendiamkan penghancuran ruang hidup oleh kapitalisme. Sayangnya, bagi sebagian agamawan, alih-alih membela saudaranya yang papa dan dirampas tanahnya, Islam hanya ditafsirkan sekadar sebagai solidaritas pada mereka yang telah mati saja, tidak pada mereka yang masih hidup dan menanggung derita.


Oleh karena itu, ketimbang menyampahkan suatu gagasan, lebih baik menyumbang gagasan di tengah pesatnya proses de-peasantization di Indonesia saat ini, yaitu suatu proses penghancuran petani sebagai produsen dan unit ekonomi mandiri yang disebabkan oleh gagalnya reforma agraria, dan maraknya perampasan tanah (land grabing). Dan ingat, mereka saudara kita. Mereka syahadat, shalat, dan puasa yang sama dengan kita.

Baiklah, agar memori sejarah kita terhadap perjuangan Indonesia tak segera lapuk dimakan hama fasisme, perlu kiranya kita ingat kembali yang dikatakan Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Penting kiranya kita baca kembali perjuangan para ksatria Komunis di Zaman Bergerak. Nah, di antara Kesatria tersebut adalah Haji Misbach, seorang Kiai Komunis dan jurnalis dari Surakarta yang konsisten di garis massa rakyat Hindia Belanda merebut kemerdekaanya. Seorang saleh yang fasih dalam ilmu Islam tersebut mengatakan,

“Hai saudara2! Ketahoeilah! Saja seorang yang mengakoe setia pada Igama, dan djoega masoek dalam lapang pergerakan kommunis, dan saja mengakoe djoega bahoea tambah terbukanja fikiran saja di lapang kebenaran atas perintah agama Islam itoe, tidak lain jalah dari sasoedah saja mempeladjari ilmoe kommunisme…..!”.

Ia terang-terangan menemukan Islamnya melalui Komunisme.
Di tengah para agamawan yang mengajak rakyat Hindia Belanda menerima dengan sabar kemalangan hidupnya sebagai takdir yang sudah digariskan oleh Allah swt, ia dengan lantang menggugatnya,

“Sebagai di Hindia ini, semasa kaoem boeroeh dan rakjat jang miskin ini bergerak akan melawan tindasan yang dideritanja, maka matjam-matjamlah usaha akan melemahkan pergerakan ra’jat jang tertindas itoe. Adalah jang dengan djalan mengembangkan agama Islam dengan menjoeroeh ra’jat itoe nerima kaloe ditindas, sebab itoe toch kodrat Toehan, nanti akan dapat balasan di achirat”.

Persis seperti saat ini, sebagian besar agamawan kita gemar gembar gembor Islam rahmatan lil alamin tapi tak mampu menolong kemalangan saudara-saudaranya, mereka tak mampu membaca realitas yang timpang dan tidak berkeadilan, justru sibuk bikin acara parade-parade-an dan musik-musikan yang jauh dari derita dan air mata umat Islam yang ditindas di pabrik-pabrik, diperkosa dan dilecehkan di Arab Saudi, atau yang dirampas tanahnya.

Pada masa Zaman Bergerak, keteguhan memegang iman, tak hanya diwujudkan dengan tenggelam dalam ibadah mahdlah yang mempertontonkan kesalehan pribadi sebagaimana kebanyakan hari ini, melainkan dalam perjuangan pembebasan melawan kolonialisme Belanda. Bahkan, bisa jadi pada saat pemberontakan PKI 1926/27 terhadap Belanda meletus di Banten dan Silungkang Sumatra Barat, yang kita tahu sebagai basis Islam yang kuat, pekik takbir, sholawat dan lagu internationale, dikumandangkan beriringan sebagai pemompa daya juang di hadapan tiran. Karena dari banyak sumber sejarah mengatakan bahwa para santri tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang dalam hatinya senantiasa digenangi oleh rasa cinta pada Allah dan selalu istiqamah merapalkan: ilahi anta maqshudi wa ridhaqa mathlubi a’tini mahabbataka wa ma’rifatak (Ya Allah hanya Engkaulah yang hamba maksud, Ridha-Mu yang hamba dambakan, berikanlah hamba kemampuan untuk dapat mencinta-Mu dan bermakrifat kepada-Mu) juga terlibat dalam pemberontakan terhadap Belanda tersebut.

Para ulama yang bergabung dengan PKI Banten antara lain Tubagus KH Achmad Chatib, Tubagus H Abdulhamid, KH Mohammad Gozali, Tubagus KH Abdul Hadi, Puradisastra (kakak Sukaesih), Alirachman (Aliarcham), dan Tubagus Hilman. Para Kiai Komunis dalam pemberontakan Banten banyak yang menjadi syuhada. Setelah pemberontakan, setidaknya ada 99 orang dibuang ke Boven Digul, 29 di antaranya sudah bergelar haji, 17 di antaranya bahkan pernah tinggal di Makkah. Sedang 11 orang lainnya tercatat sebagai guru agama. Beberapa ulama yang dibuang ke Boven Digul adalah H Chatib, H Asgari, H Emed, H Mohammad Arif, H Abdul Hamid (adik H Chatib), H Artadjaja, H Soeeb, H Abdul Hadi, H Akjar, dan H Sentani.

Di tengah kejumudan dan kepicikan berpikir, Sastro yang lain, Sastro Anwar makruf, seorang pemimpin Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia dan aktivis buruh, dalam salah satu wawancara IndoPROGRESS dengannya, mengenai apa yang sedang diperjuangkannya dengan organisasinya, ia mengatakan,

“Secara material dan spiritual, kami ingin mewujudkan surga dunia dan akherat. Surga dunia berarti dunia yang damai, bahagia, sejahtera, setara dan sentausa bagi seluruh umat manusia, juga dengan semesta alam yang indah, lestari dan terjaga. Hal tersebut akan terjadi jika dunia bebas dari penghisapan dan penindasan. Jika surga dunia terwujud, maka dengan sendirinya surga akherat akan mengikuti”.
Sekali lagi, anti KOM bukanlah tiba-tiba turun dari langit, melainkan dipropagandakan. Pancasila yang tidak pernah anti KOM hari ini justru ditafsir dan ditampilkan secara fasistis dan anti rakyat. Di hadapan mara bahaya dan fitnah kaum fasis dan manuver sayap kanan, jangan pernah takut dan gentar. Kuncinya, bagi yang beriman, kata ibu saya: “Jangan lupa sholat dan perbanyak sholawat”.Terhadap berbagai kebohongan fasisme selama ini, mari kita bertanya padanya sebagaimana seringkali Al-Qur’an bertanya: …Hatu burhanukum in kuntum shadiqien (tunjukkanlah bukti-bukti kalian kalau kalian itu benar).Wallahua’lam. ***