Senin, 05 Oktober 2026

 


MURTADNYA SANG NABI AKAL SEHAT

Sebuah pengkhianatan yg jelas terhadap akal sehat dan moralitas. RG yg selama ini menjadi simbol perlawanan atas kebejatan moralitas rezim mendadak menjadi bagian dari rezim yg selama ini dia caci maki dan hujat. Sebuah realita yg bertentangan antara idealisme melawan kenyamanan, dan RG ditengah teriakan dan jargon2 moral yg kerap meluncur dari podcast dan pidato2nya ternyata harus bertekuk lutus dibawah kursi singgasana kekuasaan.

Kalau kira perhatikan baik2 tentang drama politik di negeri ini kadang membuat kita terkejut dan sulit di tebak. Keputusan rezim Prabowo merangkul RG sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden memberikan kejutan politik yg tidak pernah terbayangkan di pikiran banyak orang. Sebelumnya, pada beberapa podcast dan wawancara politik RG dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mau menjadi bagian dari kekuasaan rezim. Namun realita yg terjadi ternyata berbeda. RG justru menjadi bagian dari rezim yg selama ini dia dia anggap dungu dan tidak bermoral. Statement RG pasca pelantikan yg mengatakan bahwa dia masuk lebih dalam ke ring satu istana dengan maksud agar lebih memahami situasi dan bisa memberikan perubahan kebijakan secara langsung dari dalam tanpa adanya ‘filter’ birokrasi yg berujung pada laporan ABS (asal bapak senang). RG berkilah bahwa kalau dia mengkritik dan teriak2 dari luar hanya akan membuat gaduh dan keramaian di medsos saja tanpa pernah bisa menyentuh esensi dari masalah di pemerintahan. Terdengar sangat masuk akal dan logis.

Namun coba kita lihat dari kaca mata istana. Merangkul RG kedalam lingkaran istana adalah sebuah taktik membungkam lawan yg sangat cantik dan halus. Istana paham betul bahwa utk membungkan pengkritik yg suaranya nyaring adalah dgn memberinya kursi jabatan yg empuk. Mengapa demikian? Karena secara logika seseorang yg diangkat sebagai pejabat negara maka dia akan terikat pada aturan protokoler, etika, rahasia negara , dan tata krama sebagai seorang pejabat negara. Sebagai seorang bawahan, dia harus patuh dan tunduk pada perintah atasan. Dan ini tentu akan membatasi ‘teriakan’ RG yg sebelumnya dia bebas berkoar2 dimanapun, skarang dia harus berhadapan dgn aturan birokrasi yg membatasi suara dan pemikirannya.  RG tdk bisa lagi leluasa tampil di podcast atau mimbar bebas di halaman kampus seperti yg sekarang dia lakukan. Bahkan jargon ‘No Rocky No Party’ akan perlahan menghilang dari telinga publik.


Si Pembohong Yang Jujur

RG yg selama ini menjadi symbol perlawanan dan kompas moral akal sehat, ternyata harus berpelukan dan tersenyum lebar saat dirinya dilantik menjadi Dewan Penasehat Presiden. Publik harus menyaksikan drama melolo yg menyakitkan, dimana orang yg dulu dia kritik dan kritisi kedunguannya ternyata sekarang menjadi teman akrab RG.  Sebuah kemunafikan yg dia pertontonkan dihadapan para simpatisan yg dulu kerap menunggu statement RG di berbagai podcast dan debat publik. Semua kecerdasan dan nilai moral yg selama ini ini dia pertontonkan ternyata hanya sebuah kosmetik politik yg mudah dihapus saat majikan barunya menyodorkan kursi kekuasaan. Orang akhirnya tersadar bahwa kritik2 pedas yg dia lontarkan hingga urat lehernya menegang ternyata bukan sebuah idealisme yg tulus, tapi sebuah harga yg dia tawarkan untuk menaikkan nilai jualnya dihadapan rezim.


Pada akhirnya waktu yg akan membuktikan semuanya. Kalau suatu saat nanti rezim Prabowo gerah dan merasa risih dengan mulut pedas RG dan memecat RG (seperti nasib Purbaya), maka kita akan sujud syukur karena sang Nabi Akal Sehat imannya masih teguh dan tetap berada dijalan yg lurus. Tapi kalau kezaliman rezim Prabowo semakin menggila terhadap rakyat tetapi RG malah asyik berzikir diatas sajadah kekuasaan sambil melafadzkan puja puji pada rezim Prabowo, maka segerahlah berkumpul dan mengadakan tahlilan sebagai pengingat atas matinya sang Nabi Akal Sehat..!!! (NEO)